Namaku Ulfa. Aku berasal dari ujung timur pulau Madura, tepatnya Kota Sumenep. Tahun 2019 aku dinyatakan lulus dari SMA Negeri 2 Sumenep. Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aku berjuang mengikuti test kesana kemari, namun hasilnya aku tetap saja gagal. Pada akhirnya aku mendapaktan informasi tentang Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri (IIK) yang merupakan salah satu Institut Ilmu Kesehatan pertama di Indonesia. Aku memutuskan untuk memilih jurusan Kesehatan Masyarakat dalam formulir pendaftaran, dan alhasil Alhamdulillah ternyata aku diterima.
Hari pertama kuliah perasaanku campur aduk, antara senang karena akan bertemu dengan teman baru dan tegang karena ini merupakan pengalaman pertamaku merantau ke pulau jawa. Ketakutanku tambah menjadi saat melangkah memasuki kelas, aku takut teman-teman akan menjauhiku ketika mereka tahu aku asli orang Madura yang wataknya keras. Tapi ternyata, justru mereka malah tertarik untuk belajar Bahasa Madura dan beranggapan Bahasa Madura sama halnya dengan bahasa asing yang baru mereka dengar.
Awal masuk kuliah disebut sebagai masa-masa transisi, dimana perubahan dari masa sekolah ke kuliah perlu dilakukan dengan penyesuaian diri. Biasanya ke sekolah memakai seragam, sekarang memakai pakaian bebas tetapi sopan. Dahulu jaman sekolah disebut siswa sekarang disebutnya mahasiswa. Begitu juga dengan pengajarnya yang biasa di panggil guru, berubah menjadi dosen. Kesan pertama saat di ajar oleh dosen, beliau terlihat lebih santai dalam memberikan materi tidak sama seperti sekolah dulu. Tetapi tetap saja tugas yang diberikan dosen sama saja seperti jaman sekolah dulu, yaitu tugas individu dan kelompok yang harus dikumpulkan tepat waktu.
Basic Training of Public Health (BToPH) merupakan kegiatan pelatihan dasar bagi mahasiswa baru Kesehatan Masyarakat dalam mengenal lebih dekat tentang kesehatan masyarakat, berorganisasi dan melatih cara berpikir kritis terhadap masalah kesehatan yang terjadi di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan program kerja Hima Kesmas Divisi POKJA (Kelompok Kerja) ISMKMI. Dengan pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan mampu menjadi wadah komunikasi atau timbal balik antara mahasiswa baru dengan mahasiswa tingkat atasnya. BToPH kali ini mengusung tema “Membangun Generasi Kesehatan Masyarakat yang Positif, Sehat dan Cemerlang”.
Basic Traning of Public Health (BToPH) merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membentuk kepribadian mahasiswa sejak dini yang kreatif, bertaqwa, dan peduli kesehatan, juga karakter organisasi dan kepemimpinannya, mengenalkan mahasiswa baru tentang keilmuan kesehatan masyarakat dan kegiatan kampus serta pasca kampus, mengenalkan ISMKMI kepada mahasiswa baru. Kegiatan BToPH ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 15, 22 dan 29 November 2020.
Kegiatan Basic Training of Public Health (BToPh) ini diselenggarakan oleh tuan rumah yaitu Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Kegiatan dibuka oleh Kepala Prodi S1 Kesehatan Masyarakat IIK Bhakti Wiyata yaitu Ibu Endah Retnani Wismaningsih, S. KM., dan diikuti oleh mahasiswa baru S1 Kesehatan Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediriangkatan 2020 dengan jumlah peserta yaitu 53 orang. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 s.d 12.00 WIB di hari pertama dan kedua sedangkan di hari ketiga yaitu pukul 09.00 s.d 12.30 WIB, pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara online yaitu melalui via zoom.
Pada BtoPH hari pertama tanggal 15 November 2020 yaitu mengenai materi-materi yang disampaikan oleh narasumber yaitu dosen dan kakak tingkat. Pada hari pertama materi yang dibahas yaitu mengenai Materi 1 (Sejarah, Prospek kerja Kesmas), Materi 2 (Current Issue : STR), Materi 3 (peminatan K3), Materi 4 (peminatan Kespro), Materi 5 (peminatan Kesling)
Pada BToPH hari berikutnya yaitu pada tanggal 22 November 2020 tidak kalah menarik seperti hari pertama. Pada hari kedua ini kami menyuguhkan pemateri dari kakak tingkat yang dimana dalam penyampaiannya sudah pasti tidak membosankan. Materi pada hari kedua meliputi Materi 6 (Dinamika Mahasiswa), Materi 7 (Gerakan Mahasiswa), Materi 8 (Era Baru Pembelajaran Kesmas bersama Jago Preventif), Materi 9 (peminatan PKIP), Materi 10 (peminatan Gizi), Materi 11 (peminatan Biostatistika).
Pada hari terakhir yaitu puncak dari acara juga tidak kalah seru dari hari pertama dan kedua. Pada kegatan BToPH hari ketiga yaitu tepatnya pada tanggal 29 november 2020 menyuguhkan tamu dari ISMKMI sebagai pemateri daari materi yang akan disampaikan yaitu meliputi Materi 12 (Ke-ISMKMI-an), Materi 13 (Metode Persidangan), Materi 14 (AKK), Materi 15 (Epidemiologi). Pada hari terakhir ini sangat seru dimana terdapat pengalaman baru khususnya untuk adik tingkat dimana beberapa dari adik tingkat dapat melakukan simulasi persidangan yang di pandu oleh kakak dari ISMKMI.
Dalam mewujudkan acara BToPH selanjutnya agar berlangsung dengan sukses maka memerlukan beberapa rekomendasi yang diajukan, antara lain:
Perlu adanya koordinasi yang berkelanjutan antar panitia sehingga, apabila ada kendala mampu diselesaikan dengan bijak.
Perlu adanya monitoring secara kontinyu yang dilakukan oleh ketua panitia sehingga dalam mengambil keputusan mampu untuk mempertimbangkan hal-hal yang berhubungan.
HIV (Human Immonodeviciency Virus) dan AIDS (Acquered Immune Deficiency Syndrom) telah menjadi masalah darurat global di seluruh dunia. Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi berjumlah 240 juta jiwa yang tersebar 514 kota dan kabupaten memiliki tantangan yang khusus dalam penanggulangan HIV.
Dari Kemenkes, hasil catatan temuan kasus baru HIV pada masa pendemi covid 19 tahun 2020, bahwa untuk kasus HIV sendiri menurun di bandingkan pada tahun 2019 yang pada saat itu terdapat 52 kasus. Penemuan kasus HIV ini di katakan mengalami penurunan hampir 40 persen dan menjadi 32 kasus pada tahun 2020 ini.
Penurunan temuan kasus baru HIV, terjadi karena menurunnya angka kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan di masa pandemi ini. Dalam penemuan kasus HIV pada masyarakat sangat penting, agar orang yang terpapar penyakit menular tersebut bisa di berikan pengobatan secara cepat dan tepat agar penyakit HIV tidak bertambah buruk yang akan menjadi AIDS serta kesehatan nya juga tidak semakin menurun.
Adapun program dari Kemenkes mengenai temuan status HIV yaitu mencapai 90%, kemudian 90% pengidap HIV telah mendapatkan terapi pengobatan ARV. Sehinggaa 90% persen virus yang berada di masyarakat tersupresi dan tidak bisa menularkan kepada orang lain. Selain penurunan temuan Kasus HIV, pada pemeriksaan dini HIV juga mengalami penurunan dan penyakit lainnya pada ibu hamil di tahun 2020.
Indonesia menargetkan eradikasi penyakit HIV di Tanah Air pada tahun 2030 dengan tiga indikator, yaitu yang pertama tidak adanya infeksi HIV baru, yang kedua tidak adanya kematian yang disebabkan akibat HIV, dan yang ketiga tidak ada lagi diskriminasi bagi pengidap HIV.
Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zonotik Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi dalam siaran BNPB mengungkapkan, bahwa akan memastikan ketersediaan obat antiretroviral (ARV) untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Pada awal pandemi covid-19 obat ARV sempat tersendat atau terhenti, dan jika obat ARV ada di fasilitas kesehatan akan kesulitan juga untuk mendistribusikan pada ODHA karena sedang dalam situasi lockdown. Pada faskes termasuk rumah sakit memfokuskan pada penanganan covid-19, namun layanan untuk tes HIV/AIDS ataupun ODHA tetap dilalukan.
Dalam melakukan survei covid-19 di fasilitas layanan kesehatan ada 247 rumah sakit rujukan covid-19, di mana 118 rumah sakit melayani tes HIV/AIDS cenderung dengan keadaan stabil, sementara 112 rumah sakit mengalami penurunan karena di awal-awal pandemi covid-19 dibatasi pemeriksaan Setidaknya tidak terjadi penurunan luar biasa, dan dalam pengobatan juga stabil.
Dampak Covid-19 pada pandemi ini dapat meresahkan bagi aktivitas dalam memberikan ketersediaan obat karena kemenkes sendiri masih mengimpor obat ARV dari negara India, dimana negara India sendiri sedang menerapkan lockdown. Sehingga mengakibatkan di negara Indonesia sendiri di bagian daerah Jepara untuk obat ARV kategori dewasa kosong.
Pada webinar dengan tema “Penanggulangan HIV-AIDS: Kebijakan dan Strategi di Tengah Pandemi COVID-19”, yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) pada Jumat, Stuart Watson, Country Director UNAIDS Indonesia mengatakan memang belum ada bukti yang menunjukkan bahwa ODHA mempunyai risiko lebih tinggi terinfeksi COVID-19.
Secara global ada 15 juta orang yang hidup dengan HIV yang tidak mengikuti ARV, kata Watson. Indonesia sendiri, 23% dari estimasi jumlah ODHA yang tidak melakukan pengobatan.
Berdasarkan survei UNAIDS Indonesia menunjukkan sekitar 41,1% ODHA mengalami kecemasan sangat berat akan kemungkinan ikut terpapar COVID-19. Kebanyakan mereka khawatir terhadap kesehatan diri sendiri, khawatir tentang kesehatan anggota keluarga, khawatir akan stigma terkait status HIV, selain kekhawatiran itu juga khawatir ekonomi yang tidak bisa membeli obat ARV.
Dilansir dari laman resmI WHO, 24 negara melaporkan bahwa mereka memiliki persediaan ARV yang sangat rendah. Di situasi seperti masa pandemi seperti sekarang, komunitas harus bekerja lebih aktif dan prima dalam pelayanan untuk menyemangati para ODHA yang dirundung cemas dan membutuhkan pendamping psikologis.
Roadshow ISMKMI merupakan kegiatan kunjungan ke institusi-institusi yang dikoordinir oleh Koordinator Daerah yang bekerjasama dengan Pengurus ISMKMI khusunya yang berada di dalam satu daerah yang sama (pengurus nasional, wilayah dan daerah). Dengan agenda menemui Dekan/Ka Prodi untuk mengenalkan ISMKMI dan berbincang-bincang mengenai isu-isu terkini kesehatan serta himbauan untuk pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok di Institusi.
Pelaksanaan Roadshow ISMKMI di IIK BW pada tanggal 18 Januari 2020 bertempat di Ruang Cakra Theater Gedung Adipadma IIK BW. Kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Reny Nugraheni, S.KM., M.M., M.Kes selaku Kaprodi S1 Kesmas, Bapak Forman Novrindo Sidjabat S.KM., M.Kes (Epid) selaku Dosen Pembina Hima Kesmas, Novita selaku Koordinator daerah serta pengurus ISMKMI daerah Jatim dan juga Mahasiswa kesmas angkatan 2018 dan 2019.
Kegiatan ini untuk memperkuat solidaritas di antara anggota-anggota ISMKMI dan mengingatkan kembali fungsi pergerakan mahasiswa kesehatan masyarakat, isu-isu terkini kesehatan, dan memperkenalkan ISMKMI kepada mahasiswa baru, Dekan/ Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat beserta Bidang Kemahasiswaan, dan melihat kondisi dari Lembaga Eksekutif Mahasiswa yang saat ini tergabung di dalam ISMKMI.
Maka dari itu mari bersama Roadshow kita perkuat persatuan dan kesatuan ISMKMI serta mewujudkan pembinaan ke arah yang lebih baik.
Penyalahgunaan narkotika di beberapa negara dewasa ini sudah dianggap sebagai bahaya nasional dan internasional, baik oleh negara-negara maju ataupun oleh negara yang sedang berkembang, termasuk negara-negara kelompok ASEAN.
Masalah ini sudah dirasakan sebagai satu masalah dunia yang mengancam kehidupan masyarakat hampir dalam segala bidang yaitu politik, ekonomi, sosial budaya dan Hankam. Perkembangan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dalam beberapa tahun terakhir telah memperlihatkan peningkatan yang mencolok. Bentuk-bentuk narkoba selalu berubah-berubah seiring dengan perkembangan sosial masyarakat.
Di Indonesia sendiri pada tahun 1998 pernah dilakukan survey dimana hasil dari survey menyebutkan bahwa jumlah penggunanya mencapai 1-2 % dari total penduduk yang dihitung dengan jumlah 200.000.000 (dua ratus juta) orang.
Persebaran wilayah penyalahgunaan narkoba di Indonesia, telah merambah luas baik di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja dan lingkungan pemukiman di pedesaan ataupun di perkotaan.
Sedangkan angka penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 (dari 13 ibukota provinsi di Indonesia ) mencapai angka 2,29 juta orang.
Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial.
Banyaknya penyalahgunaan narkoba di Indonesia patut kita sadari. Salah satunya adalah melihat penyebab seseorang menjadi terlibat dalam urusan narkoba ini.
Perubahan-perubahan yang terjadi di abad modern saat ini berkaitan pula dengan perubahan-perubahan cara pergaulan khususnya pergaulan remaja.
Maka dari itu, untuk memperingati hari anti narkotika internasional, Himpunan Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat mengadakan sebuah webinar yang bekerjasama dengan BNN Kota Kediri sebagai wujud sosialisasi gerakan anti narkoba terutama generasi millenial.
Ayo Hidup 100% (sadar, sehat, produktif, dan bahagia tanpa narkoba)
Pada Tanggal 13 Juli 2020 telah terlaksana Webinar Memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2020 dengan tema “Eksistensi Generasi Milenial Dalam Melawan Narkoba Ditengah Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan secara virtual melalui fasilitas Webinarjam Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri.
Untuk acara selanjutnya yaitu pemaparan materi pertama oleh AKBP Bunawar, S.H (Ketua BNN Kota Kediri) dimana memaparkan tentang Situasi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika di Indonesia saat ini; Kasus kejahatan Narkotika di era Pandemi Covid-19; Narkotika dalam perspektif Hukum.
Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Kompol DN. Indrawati, SH (Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat) beliau menyampaikan tentang Dampak Fisik, psikis, dan sosial penyalahgunaan Narkotika, terutama pada generasi Milenial; Perkembangan New Psikoaktif Subtance di Indonesia Peran Serta generasi Milenial dalam mencegah penanggulangan Narkoba di situasi Pandemi (Penyuluh); Pemaparan tentang REAN.Id (Penyuluh).
Dan materi terakhir yang disampaikan oleh Agus Widanarko, S.E., M.H., M.Si (Relawan Anti Narkoba Penerima Penghargaan Presiden Tahun 2014) dimana beliau memaparkan tentang Motivasi kepada Milenial untuk turut berperan serta dalam upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba.
Pemuda hidup berdaya untuk bangsa dan negara, bukan berdaya oleh narkoba. Mari berprestasi tanpa ekstasi.