Kategori
Uncategorized

PENA KESMAS

HIMA KESMAS IIK Bhakti Wiyata Kediri mengadakan kuis yang di lakukan pada story instagram Pada tanggal 25/06/2021. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Divisi Kajian, Keilmuan dan Advokasi dan Divisi Multimedia, Komunikasi dan Informasi. Tujuan dari kegiatan ini yakni untuk mengetahui keluh kesah pada mahasiswa S1 KESEHATAN MASYARAKATdi Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Sebelum pandemi kegiatan dilakukan pada pengisian melalui media pengisian angket ataupun form secara offline atau secara tatap muka (luring). Namun, dikarenakan saat ini kegiatan ini tidak bisa dilakukan secara langsung maka kami mengambil tindakan untuk dilakukan secara online atau bisa melalui media sosial.

Berbagai pertanyaan yang telah kami siapkan untuk topic cerita di instagram story diantaranya yakni:

  • Pertanyaan pertama : “Seberapa bersedianya mahasiswa dilakukan cerita keluh kesahnya selama perkuliahan daring” dengan pilihan opsi jawaban Yuk dan Mager.

Ada sebanyak 86% yang memilih opsi Yuk atau setuju untuk mengikuti menjawab pertanyaan dari pertanyaan selanjutnya, dan sebanyak 14% yang memilih Mager atau tidak tertarik dengan cerita selanjutnya.

  • Pertanyaan kedua : “Yang megikuti cerita keluh kesah di Instagram Story dari angkatan berapa saja ?”

Jika diurutkan dari angkatan atas yang mengikuti ada dari angkatan 2015 sebanyak 1 orang, angkatan 2017 sebanyak 4 orang, angkatan 2018 sebanyak 8 orang, angkatan 2019 sebanyak 19 orang, dan angkatan terkahir yakni angkatan 2020 sebanyak 9 orang.

  • Pertanyaan ketiga : “Bagaimana pendapat teman-teman tentang kuota yang digunakan selama perkuliahan daring?”

Dari pertanyaan tersebut banyak sekali yang memberikan argument tentang penggunaan kuota yang dihabiskan selama perkuliahan daring. Jika di simpulkan banyak yang mengeluhkan masalah kuota yang semakin boros karena penggunaan zoom, google meet, dan media pembelajar lainnya. Banyak yang meresahkan bantuan kuota internet yang tidak bisa untuk mengakses lainnya seperti untuk mencari dari google yang bisa hanya untuk zoom atau gmeet serta bantuan kuota internet yang tidak merata pada semua mahasiswa atau tidak efektif untuk penggunaannya. Dan disaat masa pandemic ini dan PPKM ini uang jajan semakin menipis sehingga terkadang jika kuota habis dan tidak memiliki uang maka tidak bisa mengikuti perkuliahan.

Disisi lain ada yang mendukung karena menggunakan wifi tidak menggunakan kuota internet (data selular). Banyaknya atau lamanya penggunaan perkuliahan secara online tidak takut atau khawatir jika kuota internetnya cepat habis. Tetapi tidak selamanya penggunaan wifi itu jaringan internetnya lancar, ada kalanya penggunaan wifi itu lemot atau lelet untuk mengakses berbagai media sosial ataupun untuk mencari di internet.

Bisa dikatakan penggunaan kuota internet (data selular) atau penggunaan wifi terkadang ada kalanya sama-sama lemot atau susah sinyal. Jadi apapun penggunaan internetnya tidak bisa menjamin kelancarannya.

  • Pertanyaan keempat : “Apakah teman-teman pernah terkendala sinyal saat perkuliahan daring ?”

Dengan pilihan opsi jawaban pernah atau tidak pernah. Ada sebanyak 99% yang menyatakan pernah mengalami kendala sinyal saat melakukan perkuliahan daring. Sedangkan yang memilih tidak pernah ada sebanyak 1% dari 100%.

  • Pertanyaan kelima : “Seberapa tertarik teman-teman untuk mengikut perkuliahan daring?”

Dari pertanyaan tersebut didapatkan berbagai ragam jawaban yang ditulis oleh mahasiswa. Secara umum banyak yang menyatakan bahwa tidak atau kurang tertarik dengan perkuliahan daring, pasrah dengan keadaan perkuliahan daring, dan masih banyak keluhan lainnya. Namun ada juga yang merasa senang dengan tidak perlu terburu-buru untuk mandi pagi, dan ada yang menyatakan 80% atau setuju.

  • Pertanyaan keenam : “Apakah teman-teman bisa memahami mata kuliah selama pembelajaran saat daring ?”

Pertanyaan ini diberikan pilihan opsi jawaban paham dan tidak paham akan materi matakuliah. Ada sebanyak 43% yang memilih jawaban paham tentang matakuliah selama pembelajaran daring. Sedangkan yang memilih jawaban tidak paham ada sebanyak 57%. Bisa kita simpulkan dari 100% lebih dari 50% (lebih dari separuh total penjawab) ini menjadi dampak negative dari perkuliahan daring dengan niatan awal tidak tertarik dengan perkuliahan selama pembelajaran daring ini.

  • Pertanyaan ketujuh : “Teman-teman lebih suka pembelajaran daring atau luring?”

Dengan pertanyaan seperti ini banyak mahasiswa yang milih untuk menjalani perkuliahan secara luring (pembelajaran tatap muka) dengan jawaban sebanyak 81% dari jumlah penjawab. Sedangkan yang menjawab perkuliahan secara daring hanya 19%. Berarti banyak mahasiswa yang sangat antusias untuk melakukan perkuliahan secara luring seperti mahasiswa bertemu dengan teman baru lainnya atau bermain bersama bertegur sapa.

  • Pertanyaan kedelapan : “Bagaimana pendapat teman-teman tentang suasana pada saat proses pembelajaran daring ?”

Dari pertanyaan tersebut didapatkan berbagai ragam jawaban yang dijawab oleh mahasiswa. Dengan banyak jawaban tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, mengantuk, bosan, malas, materi susah untuk di cerna dengan tugas yang tidak bisa dikerjakan secara bersama-sama.

  • Pertanyaan kesembilan : “Apa harapan teman-teman untuk perkuliahan kedepan ?”

Berdasarkan pertanyaan tersebut di dapatkan hasil komentar jawaban yang beragam. Banyak mahasiswa yang berharap semoga pandemi COVID-19 cepat selesai dan bisa melakukan kegiatan perkuliahan secara luring tatap muka bersama dosen serta bisa melakukan kerja kelompok secara bersama-sama dengan teman-teman kampus.

  • Pertanyaan kesepuluh : “Menurut teman-teman bagaimana kinerja HIMA selama masa pandemi ?”

Berdasarkan pertanyaan tersebut banyak mahasiswa yang menjawab kurang, belum baik, tidak ada program kerja, banyak kegiatan yang tertunda, dsb. Namun, ada juga yang menjawab lebih produktif konten di ig, cukup aktif dan banyak kegiatan. Jika mahasiswa yang mengikuti HIMA sebenarnya banyak sekali program kerja yang telah disusun namun menjadi evaluasi kembali karena kendala kegiatan offline yang tertunda adanya pandemi COVID-19 ini.