
Infertilitas adalah ketidakmampuan wanita untuk hamil setelah sekurang-kurangnya 1 tahun berhubungan seksual, sedikitnya 4 kali seminggu tanpa kontrasepsi. Berdasarkan literatur lain, infertilitas diartikan sebagai kondisi pasangan suami-istri yang bersenggama secara teratur 2-3 kali seminggu, tanpa memakai metode pencegahan kehamilan, belum juga mengalami kehamilan selama 1 tahun.
Pencegahan
Berbagai macam infeksi yang diketahui dapat menyebabkan infertilitas ialah infeksi prostat, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi di daerah tersebut harus ditangani secara serius. Banyak penelitian menunjukkan, perlu menghindari rokok karena berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas sperma.
Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki risiko kemandulan lebih tinggi, misalnya IUD. IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum pernah memiliki anak. Mengobati dan memperbaiki penyebab infertilitas yang terjadi pada wanita harus dilakukan sebagai pencegahan.
Gejala
Infertilitas merupakan gangguan dengan multifaktorial dan patogenesis bervariasi, sehingga gejalanya pun tidak spesifik. Gejala yang dihubungkan dengan penyebab infertilitas dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Gejala klinis seperti amenorea bisa terjadi pada wanita. Beberapa menunjukkan gejala oligomenorea.
Gejala dan ciri lain seperti obesitas bisa terjadi sebagai penyebab infertilitas sekunder. Hirsutisme pada wanita juga patut dicurigai sebagai pangkal kejadian infertilitas. Endometriosis pun disebut-sebut sebagai salah satu penyebab infertilitas pada wanita, maka gejala endometriosis seperti dismenore sering dirasakan.
Penyebab
Karena infertilitas melibatkan suami dan istri, maka infertilitas primer bisa terjadi pada wanita, pria, atau kombinasi keduanya. Penyebab infertilitas pada wanita meliputi masalah vagina. Infeksi pada vagina dapat menyebabkan infeksi lanjut pada portio, serviks, endometrium, bahkan sampai ke tuba, sehingga menyebabkan gangguan pergerakan sel telur dan penyumbatan tuba yang dapat menghambat konsepsi (terjadinya pembuahan). Gangguan pada vagina juga menyulitkan penetrasi penis. Dengan lingkungan vagina yang sangat asam, secara nyata dapat mengurangi daya hidup sperma.
Sedangkan penyebab infertilitas sekunder meliputi usia, gaya hidup, dan masalah yang timbul akibat dari kejadian tertentu, misalnya melahirkan dengan operasi Caesar, dapat menyebabkan jaringan parut yang mengarah pada penyumbatan tuba. Masalah lain yang juga berperan dalam reproduksi yaitu ovulasi tidak teratur, gangguan pada kelenjar pituitary, dan penyumbatan saluran sperma.
Diagnosis
Perlu dilakukan pemeriksaan, baik pada wanita maupun pria, untuk menegakkan diagnosis infertilitas. Hal ini berfungsi untuk mengetahui penyebab dari infertilitas. Penapisan infeksi virus dan kanker serviks dilakukan untuk meyakinkan penyebabnya bukan dikarenakan kedua hal ini.
Untuk wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur, bisa dilakukan pemeriksaan kadar hormon melalui tes darah. Diagnosis lebih lengkap bisa dilakukan atas riwayat pasien dan pertimbangan dokter, serta merujuk kepada hasil konsensus infertilitas.
Penanganan
Pada pasien pria dengan gangguan hipogonadotropin bisa diberikan obat gonadotropin untuk meningkatkan kesuburan. Pria dengan azoospermia obstruksi perlu melakukan proses pembedahan untuk mengoreksi penyumbatannya.
Pada wanita dengan gangguan ovulasi, bisa direkomendasikan melakukan gonadotropin-releasing hormone. Selain itu, sediaan seperti klomifen sitrat, metformin, atau kombinasinya bisa diberikan untuk wanita sesuai patogenesis infertilitasnya.