{"id":108,"date":"2021-09-29T07:57:44","date_gmt":"2021-09-29T07:57:44","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/?page_id=108"},"modified":"2021-09-29T09:02:08","modified_gmt":"2021-09-29T09:02:08","slug":"apa-itu-waham","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/apa-itu-waham\/","title":{"rendered":"MATERI"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image\"><a href=\"https:\/\/edukasi.okezone.com\/read\/2019\/10\/07\/65\/2113933\/fenomena-joker-asal-usul-badut-lucu-vs-menyeramkan\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/img.okezone.com\/content\/2019\/10\/07\/65\/2113933\/fenomena-joker-asal-usul-badut-lucu-vs-menyeramkan-hp43iyaozs.jpg\" alt=\"Fenomena Joker, Asal-usul Badut Lucu vs Menyeramkan : Okezone Edukasi\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><br><a href=\"https:\/\/www.suara.com\/health\/2019\/10\/08\/121000\/kenali-gangguan-delusi-di-film-joker-seperti-ini-penyebab-dan-gejalanya?page=all\">Suara.com<\/a> &#8211;&nbsp;<\/strong>Film<em>&nbsp;Joker<\/em>&nbsp;yang mengangkat tema&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tag\/kesehatan-mental\">kesehatan mental<\/a>&nbsp;dan kekerasan, tidak hanya menceritakan sosok Arthur Fleck sebagai pemeran utama. Film ini juga sempat menyinggung soal kondisi mental ibu Arthur Fleck, Penny Fleck.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Arthur Fleck berusaha mencari tahu masa lalu ibunya, ia baru mengetahui bahwa ibunya pernah mengalami&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tag\/delusi\">delusi<\/a>. Gangguan mental ibunya itulah yang berdampak pada kondisi Arthur Fleck sebagai Joker.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang Anda ketahui delusi adalah jenis&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.suara.com\/tag\/penyakit-mental\">penyakit mental<\/a>&nbsp;serius yang disebut psikosis. Penyakit ini membuat penderittanya meyakini sesuatu yang tidak nyata atau bertentangan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.klikdokter.com\/info-sehat\/read\/3633702\/tanda-tanda-delusional-seperti-yang-dialami-tokoh-joker\">Klikdokter.com,<\/a> Jakarta<\/strong>&nbsp;Sebagian penikmat film mungkin sudah menonton&nbsp;<em>Joker<\/em>&nbsp;yang telah tayang sejak minggu lalu. Saat menikmati alur film, Anda juga mungkin mengamati latar belakang keluarga Arthur Fleck alias Joker \u2013yang dibintangi Joaquin Phoenix, yang dirundung banyak masalah. Salah satunya adalah ibunya yang memiliki gangguan delusional.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Adakah tanda-tanda orang yang mengalami delusional yang bisa dikenali? Simak artikel ini untuk mengenalinya lebih jauh, termasuk jenis-jenisnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa itu delusional?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Di Indonesia, penyakit mental atau apa pun yang sejenisnya memang masih belum dianggap serius oleh banyak orang. Padahal, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan, ada sekitar 400.000 orang menderita gangguan mental yang disebut dengan skizofrenia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.klikdokter.com\/penyakit\/skizofrenia\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Skizofrenia<\/a>&nbsp;merupakan gangguan jiwa berat, di mana orang yang mengalaminya akan menginterpretasikan realitas secara abnormal. Gangguan ini bisa menyebabkan terjadinya beberapa gejala, dan gejala-gejala inilah yang akhirnya menyebabkan seseorang menjadi delusional atau dalam bahasa medis disebut waham.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Waham sendiri bisa diartikan sebagai suatu keyakinan yang salah atau tidak sesuai kenyataan. Orang yang memiliki waham akan cenderung mempertahankan keyakinannya dengan kuat, meskipun sudah dijelaskan mengenai realitas yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\" \/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apakah seseorang dengan delusional bisa sembuh?<\/h2>\n\n\n\n<p>Dijelaskan lagi oleh dr. Sepriani, seseorang dengan masalah delusional tidak bisa disembuhkan. Tapi jangan khawatir, masalah kesehatan mental yang satu ini masih bisa dikontrol agar tidak kambuh dan memburuk kondisinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBiasanya, setelah didiagnosis mengidap delusional, pasien akan ditangani langsung oleh psikiater atau dokter kejiwaan untuk mendapatkan pengobatan dan terapi yang tepat,\u201d kata dr. Sepriani.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang bukan untuk menyembuhkan secara total, tapi metode pengobatan yang diberikan bisa menurunkan risiko dari delusional dan mencegah masalah&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.klikdokter.com\/penyakit\/kesehatan-mental\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">kesehatan mental<\/a>&nbsp;ini jadi semakin memburuk,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Gangguan delusional seperti yang ditampilkan film&nbsp;<em>Joker<\/em>&nbsp;mungkin bisa dijadikan pelajaran. Jika ada orang di sekitar atau bahkan diri Anda sendiri mengalami gejala-gejala di atas, jangan sungkan untuk segera berkonsultasi pada ahlinya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>[MS\/ RH]<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>MATERI<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<ol type=\"A\"><li><strong>Pengertian waham<\/strong>.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat\/terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Proses Terjadinya Waham (rentang respon neurobiology) dikutip dari buku Keperawatan Kesehatan Jiwa Pak Yusuf et al (2015)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>1. Fase kebutuhan manusia rendah (lack of human need)<\/p>\n\n\n\n<p>Waham diawali dengan terbatasnya berbagai kebutuhan pasien baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, pasien dengan waham dapat terjadi pada orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya pasien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Hal itu terjadi karena adanya kesenjangan antara kenyataan (reality), yaitu tidak memiliki finansial yang cukup dengan ideal diri (self ideal) yang sangat ingin memiliki berbagai kebutuhan, seperti mobil, rumah, atau telepon genggam.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Fase kepercayaan diri rendah (lack of self esteem)<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenjangan antara ideal diri dengan kenyataan serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi menyebabkan pasien mengalami perasaan menderita, malu, dan tidak berharga.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Fase pengendalian internal dan eksternal (control internal and external)<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahapan ini, pasien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, menghadapi kenyataan bagi pasien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, dianggap penting, dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, sebab kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar pasien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan pasien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjadi perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan pasien tidak merugikan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Fase dukungan lingkungan (environment support)<\/p>\n\n\n\n<p>Dukungan lingkungan sekitar yang mempercayai (keyakinan) pasien dalam lingkungannya menyebabkan pasien merasa didukung, lama-kelamaan pasien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Oleh karenanya, mulai terjadi kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (superego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.<\/p>\n\n\n\n<p>5. Fase nyaman (comforting)<\/p>\n\n\n\n<p>Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat pasien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya, pasien lebih sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).<\/p>\n\n\n\n<p>6. Fase peningkatan (improving)<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila tidak adanya konfrontasi dan berbagai upaya koreksi, keyakinan yang salah pada pasien akan meningkat. Jenis waham sering berkaitan dengan kejadian traumatik masa lalu atau berbagai kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Rentang Respon Sosial<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"413\" height=\"18\" src=\"\"><br><strong>Adaptif<\/strong><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/strong><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/strong><strong>Maladaptif<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pikiran logis &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Distrosi pikiran&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Gangguan pikiran<\/p>\n\n\n\n<p>Keterangan:<\/p>\n\n\n\n<p>Rentang respon waham yaitu ada respon adaptif dan ada respon maladaptif:<\/p>\n\n\n\n<ol type=\"1\"><li>Respon adaptif terdapat pikiran yang logis. Dibagi beberapa bagian :<\/li><li>Persepsi Kuat<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Dimana apa yang diyakini seseorang tersebut sangatlah kuat dan tidak bisa di ganggu gugat, serta dapat dibuktikan kebenarannya.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Emosi Konsisten<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Pengalaman bisa membuat seseorang mengalami atau mempunyai emosi yang stabil atau tetap.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Perilaku sesuai<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Perilaku tidak menyimpang dari kenyataan yang ada<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Berhubungan sesuai<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam berhubungan antar teman dan keluarga berbeda, jadi seharusnya dalam berhubungan kita harus dapat menyesuaikan diri.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Dalam rentang respon ada Distorsi pikiran, terdiri dari :<\/li><li>Ilusi<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Keadaan proses berfikir yang tidak benar tentang mengartikan suatu benda.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Reaksi Emosi<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dimana tingkat emosi seseorang meningkat, tidak lagi stabil atau konstan.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Rentang respon maladaptif terdapat gangguan pikiran. Terbagi beberapa masalah :<\/li><li>Sulit Berespon<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Sesorang yang terganggu pikirannya akan susah sekali untuk diajak berinteraksi.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Emosi<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam tingkatan ini emosi seseorang sudah tidak lagi bisa terkontrol, dia mudah marah, dan mudah tersinggung.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Perilaku kacau<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dimana seseorang berprilaku tidak sesuai dengan keadaan, mereka menunjukan prilaku yang sesuai dengan pola pikir mereka tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tanda dan Gejala waham<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mendapatkan data waham saudara harus melakukan observasi terhadap perilaku berikut ini<\/p>\n\n\n\n<p>a. Waham kebesaran<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan&nbsp; berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Contoh: \u201cSaya ini pejabat di departemen kesehatan lho..\u201d atau \u201cSaya punya tambang emas\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>b. Waham curiga<\/p>\n\n\n\n<p>Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha&nbsp;&nbsp;&nbsp; merugikan\/mecederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh: \u201cSaya tahu..seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>c.&nbsp;&nbsp; Waham agama<\/p>\n\n\n\n<p>Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh: \u201cKalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian&nbsp; putih setiap hari\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>d.&nbsp;&nbsp; Waham somatik<\/p>\n\n\n\n<p>Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu\/terserang penyakit, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh: \u201cSaya sakit kanker\u201d, setelah pemeriksaan laboratorium tidak &nbsp;ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker.<\/p>\n\n\n\n<p>e.&nbsp;&nbsp; Waham nihilistik<\/p>\n\n\n\n<p>Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia\/meninggal,diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh: \u201cIni khan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>SOAL..<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Tulis Pendapat kalian, mengapa Perawat dalam mengkaji atau mengumpulkan data tidak boleh mendukung atau membantah dengan keras keyakinan penderita delusi\/ waham? <br><br>Tulis Nama\/Nim<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suara.com &#8211;&nbsp;Film&nbsp;Joker&nbsp;yang mengangkat tema&nbsp;kesehatan mental&nbsp;dan kekerasan, tidak hanya menceritakan sosok Arthur Fleck sebagai pemeran utama. Film ini juga sempat menyinggung soal kondisi mental ibu Arthur Fleck, Penny Fleck. Ketika Arthur Fleck berusaha mencari tahu masa lalu ibunya, ia baru mengetahui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":369,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/108"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/369"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=108"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/108\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":120,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/108\/revisions\/120"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wildanakasyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=108"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}