{"id":9,"date":"2023-02-03T17:53:00","date_gmt":"2023-02-03T17:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/?p=9"},"modified":"2023-06-03T17:59:10","modified_gmt":"2023-06-03T17:59:10","slug":"latihan-fisik-berolahraga-bagi-lansia-dengan-diabetes-melitus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/2023\/02\/03\/latihan-fisik-berolahraga-bagi-lansia-dengan-diabetes-melitus\/","title":{"rendered":"Latihan Fisik (Berolahraga) bagi Lansia dengan Diabetes Melitus"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-style-rounded\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"626\" height=\"626\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-content\/uploads\/sites\/324\/2023\/06\/active-elderly-people-concept_23-2148609529-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-content\/uploads\/sites\/324\/2023\/06\/active-elderly-people-concept_23-2148609529-1.jpg 626w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-content\/uploads\/sites\/324\/2023\/06\/active-elderly-people-concept_23-2148609529-1-300x300.jpg 300w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-content\/uploads\/sites\/324\/2023\/06\/active-elderly-people-concept_23-2148609529-1-150x150.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><\/figure>\n\n\n<p>Latihan Fisik dan olahraga sesungguhnya memiliki definisi yang sesungguhnya terdapat perbedaan tujuan yang melatarbelakanginya, meskipun pada dasarnya keduanya sama &#8211; melakukan aktivitas fisik yang terencana, terstruktur dan berkesinambungan. Latihan Fisik dan Olahraga meskipun pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani, akan tetapi istilah Olahraga (<em>Sport<\/em>) lebih ditujukan untuk berkompetisi (prestasi) (Kemenkes RI, 2022). Artikel ini akan memakai istilah berolahraga, sebab masyarakat di Indonesia umumnya lebih familiar dengan istilah olahraga untuk menyebut latihan fisik yang dilakukannya.<\/p>\n\n\n<p>Manfaat Olahraga bagi Lansia dengan Diabetes Melitus (NCOA, 2022):<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Membantu mengontrol kadar gula darah<\/li><li>Menurunkan berat badan<\/li><li>Memperbaiki keseimbangan dan mengurangi kekakuan pada lansia<\/li><li>Menjaga kestabilan tekanan darah<\/li><li>Menurunkan kadar kolesterol jenuh (LDL)<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>&nbsp;Olahraga yang dianjurkan untuk lansia dengan diabetes (NCOA, 2022; Sigal <em>et al<\/em>, 2018):<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Latihan Aerobik<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Latihan aerobik seperti Berjalan kaki, Bersepeda, Berenang, Jogging, Senam misalnya Senam Persadia. Senam Persadia merupakan senam diabetes dengan lebih banyak gerakan peregangan otot (Wibisono dalam Pratiwi <em>et al<\/em>, 2019).&nbsp; Latihan aerobik ringan \u2013 sedang dengan dasar gerakan peregangan otot dapat meningkatkan penggunaan gula darah oleh sel sehingga mendukung control kadar gula darah (Coelberg dalam Adelia <em>et al,<\/em> 2017). Latihan aerobik berbasis kontraksi eksentrik dengan intensitas ringan-sedang dapat meningkatkan ambilan glukosa perifer<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Latihan Ketahanan (Resistance Exercise)<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Latihan ketahanan dapat berupa angkat beban, latihan menggunakan <em>Resistance Band,<\/em> dll.  Latihan ketahanan yang dapat dilakukan oleh lansia tidak harus menggunakan beban khusus, tetapi dapat menggunakan beban yang ada di sekitar lingkungan dengan beban disesuai kemampuan lansia.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Latihan Fleksibilitas: Yoga, Peregangan, &nbsp;dll<\/li><li>Latihan Keseimbangan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Latihan keseimbangan penting untuk lansia guna mempertahankan kemampuan keseimbangan lansia sehingga menurunkan resiko terjadinya jatuh yang dapat mengakibatkan cidera (U.S. Department of Health and Human Services, 2018).<\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang Perlu diperhatikan dalam Olahraga untuk Lansia (U.S. Department of Health and Human Services, 2018; Sigal <em>et al<\/em>, 2018):<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Olahraga yang dilakukan oleh lansia tiap minggunya perlu variasi latihan (tidak hanya 1 jenis latihan saja)<\/li><li>Lansia perlu mengetahui batasan kemampuan dirinya ketika berolahraga<\/li><li>Olahraga yang dilakukan lansia minimal dilakukan dengan durasi 150 menit\/ minggu hingga maksimal 300 menit\/minggu dengan latihan intensitas sedang, 75 \u2013 150 menit\/ minggu dengan latihan intensitas berat. Bagi lansia yang belum dapat melakukan olahraga minimal 150 menit\/ minggunya, maka lansia tersebut perlu mempertahankan keaktifan geraknya yang dapat dilakukan dengan melakukan aktivitas fisik dalam kegiatannya sehari-hari. Usahakan jeda olahraga tidak lebih dari 48 jam <\/li><li>Lansia penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan kadar gula darah tinggi, dapat tetap melakukan olahraga dengan catatan tidak mengalami keluhan-keluhan tertentu (lansia merasa bahwa dirinya dalam kondisi baik) serta disertai dengan pendampingan keluarga dan sesuaikan batas kemampuan tubuh.<\/li><li>Pemanasan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memulai latihan apapun<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Kunci dari berolahraga yang efektif adalah dilakukan berkesinambungan, ketahuilah batasan kemampuan diri, serta berolahragalah dengan hati yang gembira.<\/p>\n\n\n\n<p>Daftar Pustaka<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Kemenkes RI. 2022. Penyakit Diabetes Melitus. Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. <a href=\"https:\/\/p2ptm.kemkes.go.id\/informasi-p2ptm\/penyakit-diabetes-melitus\">https:\/\/p2ptm.kemkes.go.id\/informasi-p2ptm\/penyakit-diabetes-melitus<\/a>. Diakses tanggal 5 Mei 2023<\/li><li>NCOA. 2022. Diabetes for Older Adults: The 6 Best Activities for Older Adults with Diabetes. National Council on Aging (NCOA). <a href=\"https:\/\/www.ncoa.org\/article\/the-6-best-activities-for-older-adults-with-diabetes\">https:\/\/www.ncoa.org\/article\/the-6-best-activities-for-older-adults-with-diabetes<\/a>. Diakses tanggal 5 Mei 2023<\/li><li>Sigal, Ronald J., Marni J. Armstrong, Simon L. Bacon, Normand G. Boul\u00e9, Kaberi Dasgupta <em>et al<\/em>. 2018. Physical Activity and Diabetes. Canadian Journal of Diabetes 42, S54\u2013S63. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jcjd.2017.10.008\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.jcjd.2017.10.008<\/a><\/li><li>Pratiwi, W. N., Purwanto, B., &amp; Abdurachman. (2019). Diabetes dance of persadia 1 effect on blood IL-6 level. Journal of Physics: Conference Series, 1146(1), 6\u201311. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1088\/1742-6596\/1146\/1\/012014\">https:\/\/doi.org\/10.1088\/1742-6596\/1146\/1\/012014<\/a><\/li><li>Adelia, Handoko, Bambang Purwanto, Mustika Arifa. 2017. The Effect of Eccentric Activity on Glucose Transporter Type 4 in Gastrocnemius Muscle of Streptozotocin-induced Diabetes Mellitus Mice. Journal of Agromedicine and Medical Sciences Vol. 3 No. 3. <a href=\"https:\/\/repository.unair.ac.id\/113605\/2\/29.%20Artikel.pdf\">29. Artikel.pdf (unair.ac.id)<\/a><\/li><li>U.S. Department of Health and Human Services. 2018. Physical Activity Guidelines for Americans, 2nd edition. Washington, DC: U.S. Department of Health and Human Services page: 75. <a href=\"https:\/\/health.gov\/sites\/default\/files\/2019-09\/Physical_Activity_Guidelines_2nd_edition.pdf#page=73\">https:\/\/health.gov\/sites\/default\/files\/2019-09\/Physical_Activity_Guidelines_2nd_edition.pdf#page=73<\/a><\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latihan Fisik dan olahraga sesungguhnya memiliki definisi yang sesungguhnya terdapat perbedaan tujuan yang melatarbelakanginya, meskipun pada dasarnya keduanya sama &#8211; melakukan aktivitas fisik yang terencana,&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9"}],"version-history":[{"count":14,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9\/revisions\/24"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/wahyupratiwi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}