{"id":85,"date":"2020-07-13T05:50:04","date_gmt":"2020-07-13T05:50:04","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/?p=85"},"modified":"2020-07-13T05:50:04","modified_gmt":"2020-07-13T05:50:04","slug":"tentang-penyakit-parkinson","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/2020\/07\/tentang-penyakit-parkinson\/","title":{"rendered":"Tentang Penyakit Parkinson"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"626\" height=\"417\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-content\/uploads\/sites\/560\/2020\/07\/parkinson-s-disease-awareness_37036-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-86\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-content\/uploads\/sites\/560\/2020\/07\/parkinson-s-disease-awareness_37036-1.jpg 626w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-content\/uploads\/sites\/560\/2020\/07\/parkinson-s-disease-awareness_37036-1-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Penyakit Parkionson adalah penyakit saraf progresif yang menyebabkan sel saraf (atau neuron) di area otak yang mengontrol pergerakan melemah dan\/atau mati. Parkinson dapat menyebabkan otot-otot menegang dan kaku, yang membuat penderita kesulitan berjalan dan kegiatan sehari-hari lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penyebab Parkinson<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Parkinson muncul dari berkurangnya produksi dopamin di otak. Tidak adanya dopamin membuat otak kesulitan untuk mengkoordinasikan gerakan otot. Rendahnya dopamin juga berkontribusi pada masalah kognitif dan suasana hati di kemudian hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut faktor-faktor yang menyebabkan seseorang beresiko menderita parkinson:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Pria. Pria 1,5 kali lebih mungkin terkena parkinson daripada wanita<\/li><li>Usia. Resiko parkinson bertambah seiring usia, meski ada beberapa yang sudah didiagnosis di bawah usia 50 tahun.<\/li><li>Genetik. Kebanyakan kasus pasien muncul dari keluarga yang tidak menderita parkinson, namun beberapa menuruni pola yang melibatkan gen tertentu yang dapat meningkatkan resiko berkembangnya parkinson.<\/li><li>Penyebab lingkungan. Penelitian telah menunjukkan keterkaitan antara parkinson dengan bahan-bahan kimia yang digunakan pada pestisida dan herbisida, termasuk juga polutan logam dan organik.<\/li><li>Cedera kepala. Tekanan berulang ke kepala dapat meningkatkan resiko seseorang terkena parkinson. Namun ini tidak selalu berakhir dengan parkinson.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Gejala penyakit parkinson<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul><li>Gemetar yang berefek pada wajah, dagu, kaki, lengan, dan tangan.<\/li><li>Berjalan lambat<\/li><li>Sulit menyeimbangkan tubuh<\/li><li>Kaku pada lengan, kaki, dan badan bagian atas<\/li><li>Tulisan tangan berubah<\/li><li>Masalah pencernaan<\/li><li>Kesulitan mengunyah dan menelan makanan<\/li><li>Hilang ingatan<\/li><li>Halusinasi<\/li><li>Demensia<\/li><li>Berat badan turun drastis<\/li><li>Depresi dan cemas<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Mendiagnosis penyakit parkinson<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Parkinson adalah salah satu penyakit yang sulit didiagnosis. Saat ini tidak ada tes darah maupun tes lab yang dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini. Tenaga medis biasanya mendiagnosis dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan, termasuk riwayat kesehatan keluarga untuk mencari tahu ada tidaknya keluarga yang menderita penyakit parkinson. Tenaga medis juga akan menjalankan pemeriksaan neurologi seperti MRI atau CT.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa jenis penyakit dapat dikatakan mirip dengan penyakit parkinson, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Essential tremor<\/li><li>Norma pressure hydrocephalus<\/li><li>Dementia with lewy bodies<\/li><li>Multiple system atrophy<\/li><li>Corticobasal syndrome<\/li><li>Progressive supranuclear palsy<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Penyembuhan penyakit parkinson<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan parkinson. Tenaga medis biasanya merekomendasikan berbagai macam terapi untuk mengontrol gejala-gejala parkinson. Kebanyakan obat yang diberikan kepada pasien bertujuan untuk membantu mengurangi kehilangan dopamin di otak.<\/p>\n\n\n\n<ul><li>Pengobatan. Pengobatan untuk penyembuhan parkinson terdiri dari levedopa, carbidopa, dopamine agonist, amantadine, anticholinergic medications, Catechol-O-methyltransferase (COMT) inhibitors, Monoamine Oxidase (MAO) B inhibitors, dan adenosine receptor antagonist. Menemukan kombinasi yang tepat untuk mengobati parkinson membutuhkan waktu yang tidak singkat.<\/li><li>Stimulasi otak dalam. Direkomenasikan untuk pasien yang tidak merespon pengobatan, stimulasi otal dalam adalah prosedur operasi dimana kabel logam tipis ditempatkan di otak dan diprogramkan untuk mengirim denyutan elektrik yang membantu mengontrol gejala motorik.<\/li><li>Focused ultrasound digunakan untuk menghancurkan sel otak yang menyebabkan masalah motorik.<\/li><li>Terapi lainnya yaitu olahraga seperti yoga, tai chi, dan jalan kaki telah terbukti dapat memperbaiki keseimbangan, kontrol motorik, dan kekuatan pada pasien parkinson.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/www.health.harvard.edu\/diseases-and-conditions\/the-facts-about-parkinsons-disease\">Harvard Medical School<\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.hopkinsmedicine.org\/health\/conditions-and-diseases\/parkinsons-disease\/parkinsons-disease-and-dementia\">John Hopkins Medicine<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Alih bahasa: Puji Wulandari <a href=\"http:\/\/iik.ac.id\">IIK Bhakti Wiyata<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penyakit Parkionson adalah penyakit saraf progresif yang menyebabkan sel saraf (atau neuron) di area otak yang mengontrol pergerakan melemah dan\/atau mati. Parkinson dapat menyebabkan otot-otot menegang dan kaku, yang membuat penderita kesulitan berjalan dan kegiatan sehari-hari lainnya. Penyebab Parkinson Parkinson muncul dari berkurangnya produksi dopamin di otak. Tidak adanya dopamin membuat otak kesulitan untuk mengkoordinasikan &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":557,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[24,3,25,5,26,20,22,23],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/users\/557"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":92,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85\/revisions\/92"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/pujiwulandari\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}