{"id":7,"date":"2020-06-26T05:20:48","date_gmt":"2020-06-26T05:20:48","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/?p=7"},"modified":"2020-06-26T06:02:11","modified_gmt":"2020-06-26T06:02:11","slug":"fisioterapi-dahulu-kini-dan-profesi-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/2020\/06\/26\/fisioterapi-dahulu-kini-dan-profesi-masa-depan\/","title":{"rendered":"Fisioterapi, Dahulu, Kini Dan Profesi Masa Depan"},"content":{"rendered":"\n<p>Fisioterapi tanpa di sadari sudah ada sejak jaman Mesir kuno, fisioterapi yang sederhana pada masa tersebut bisa di buktikan dengan adanya sentuhan sentuhan halus pada tubuh yang di gunakan untuk kesehatan pada masa mesir, tidak hanya di mesir, tekhnik yang di kenal kemudian hari dengan istilah Massage ini kkemudian berkembang ke wilayah lain, seperti Yunani, bahkan Peradaban Cina berkembang dengan pesat dengan ilmu pengobatan cina nya yang di dalam nya banyak masuk unsur unsur fisioterapi.<\/p>\n\n\n\n<p>kemudian maju ke tahun antara 1880 \u2013 1913 di dataran Eropa, pada tahun itu mulai berkembang Massage terapy di dataran eropa, namun sudah mengalami perubahan yang pada awal mulanya di pandang sebagai \u201cpengobatan alternatif\u201d mulai naik kasta dengan adanya di masukan ilmu pengetahuan tentang anatomi, physiologi, dan berbagai cabang ilmu yang pada saat itu bahkan di ajarkan dan di terapkan oleh dokter di eropa. Hal ini membuat massage terapi mulai di diakui dengan pengobatan barat, di akuinya massage itu kemudian membuat aplikasi massage ini mulai di terapkan di beberapa Rumah sakit yang ada di eropa, yang pada saat itu&nbsp; banyak juga di ikuti dengan perkembangan Gymnastic dan Electroterapi yang mulai berkembang.<\/p>\n\n\n\n<p>Berakhirnya Perang dunia kedua dengan di tandai dengan kemenangan sekutu membuat banyak sekali korban perang yang terpaksa mengalami kecacatan pada masa itu. Masa di tahun 1914-1945 dimana fisioterapis banyak di libatkan untuk menangani korban perang yang mengalami ganguan pada Ortopedik serta ganguan sistem saraf tepi. Sehingga pada masa ini mulai berkembang dengan cepat Hydroterapi dan juga elektroterapi. Dengan adanya perubahan pada stigma dan juga penanganan pada pasien yang mengalami ganguan dan butuh penanganan fisioterapi, kembali fisioterapi berevolusi menjadi suatu yang berbeda, dimana awalnya berupa pendekatan Pasif berupa Massage kini menjelma menjadi pendekatan Aktif yaitu berupa latihan atau Exercise.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"437\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/size0-army_mil-36650-2009-05-01-100518.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/size0-army_mil-36650-2009-05-01-100518.jpg 640w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/size0-army_mil-36650-2009-05-01-100518-300x205.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption>Fisioterapis pada Masa perang Dunia ke II<br>sumber : http:\/\/history.physio\/massage-and-the-history-of-physiotherapy\/<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Setelah melewati masa neoromusculoskeletal akibat kecacatan korban perang, kembali fisioterapi di hadapkan pada tantangan di era 1946-1980 yang di kenal dengan istilah era Neurological, dimana di tandai banyaknya kasus Cental Nervous System (CNS) pada masa ini, diantaranya yang mencolok adalah mewabahnya kasus Poliomyelitys, banyak kemudian pasien yang mengalami kasus tersebut harus bertahan hidup dan menjaga kemandirian dengan rutin melakukan Fisioterapi. Di masa ini Terapi latihan dijadikan dasar penting dalam pemberian tindakan fisioterapi di rumah sakit, di era ini juga muncul beberapa terobosan oleh pakar fisioetrapi dengan adanya tekhnik teknik terapi yang baru, seperti hadirnya terapi PNF, MRP, dan NDT dan beberapa terapi latihan yang diaplikasikan dalam tindakan Fisioterapi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 1981 sampai dengan sekarang fisiterapi kembali menjelma sebagai suatu profesi yang mulai di perkenalkan di dunia medis modern dengan baik, era saat ini di kenal dengan era movement, dimana standar dalam pelayanan fIsioterapi di pelayanan rumah sakit menjadi lebih kompleks dan mendapatkan tempat yang sejajar dengan tenaga kesehatan yang lain, tindakan fisioterapi saat ini lebih banyak mengarah pada evidence based practic, disalamnya juga terdapat kemampuan untuk mendiagnosa, evaluasi, serta memberikan intervensi sesuai dengan kompetensi Fisioterapi.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia, Fisioterapi dimulai sejak tahun 1956 untuk pertama kalinya di <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rumah_Sakit_Ortopedi_Dr._Soeharso\" target=\"_blank\">Rehabilitasi Centrum Prof. Dr. Suharso, Solo<\/a>. Sekolah&nbsp; Perawat&nbsp; Fisioterapi&nbsp; yang&nbsp; diikuti&nbsp; oleh utusan&nbsp; dari&nbsp; Rumah&nbsp; Sakit&nbsp; dan&nbsp; orang&nbsp; yang&nbsp; telah&nbsp; berpengalaman&nbsp; dalam&nbsp; bidang keperawatan&nbsp; selama&nbsp; 2&nbsp; tahun&nbsp; dan&nbsp; memiliki&nbsp; ijazah&nbsp; SMP.&nbsp; Kemudian, pada tahun 1957 didirikan Sekolah Assisten Fisioterapi. Perkembangan selanjutnya&nbsp; berdiri &nbsp;Akademi&nbsp; Keperawatan&nbsp; Fisioterapi&nbsp; (1967 \u2013 1970). &nbsp;Awal&nbsp; berdirinya&nbsp; Akademi&nbsp; Fisioterapi&nbsp; Murni&nbsp; Non.&nbsp; Keperawatan&nbsp; pada Tahun 1970 di Solo-Jawa Tengah. (https:\/\/www.ifi.or.id\/2019\/02\/sejarah-ikatan-fisioterapi-indonesia.html)<\/p>\n\n\n\n<p>Seiring dengan terus bertambahnya kebutuhan dan kemajuan dalam bidang fisioterapi, di Jawa Timur khususnya di Kota kediri di bangunlah sebuah pendidikan Fisioterapi yang pertama dan satu satunya pada tahun 2005 di<a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/iik.ac.id\/\" target=\"_blank\"> Institut Ilmu kesehatan Bhakti Wiyata Kediri<\/a>. Sampai saat ini program studi <a href=\"https:\/\/iik.ac.id\/web.php?judul=d3_fisioterapi_iik_bw&amp;r=prodi_iik_bw&amp;sp=d3fisio\">D3 Fisioterapi <\/a>yang di rintis oleh yayasan Bhakti Wiyata kediri masih eksis dan terus menunjukan existensinya sebagai salah satu pencetak Fisioterapis yang handal dan memiliki nilai PLUS di banding lulusan dari kampus lain.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-15-24-1024x682.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-15-24-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-15-24-300x200.jpg 300w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-15-24-768x512.jpg 768w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-15-24.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Mahasiswa D3 Fisioterapi IIK Bhakti Wiyata Kediri angkatan 2014<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebagai salah satu kampus yang memiliki komitmen untuk menciptakan tenaga kesehatan yang untggul dan berbudaya PLUS melalui Sapta Marga dan juga Catur karsa nya, kampus <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/iik.ac.id\/\" target=\"_blank\">IIK Bhakti wiyata<\/a> terus berbenah, termasuk juga&nbsp; program <a href=\"https:\/\/iik.ac.id\/web.php?judul=d3_fisioterapi_iik_bw&amp;r=prodi_iik_bw&amp;sp=d3fisio\">studi D3 Fisioterapi<\/a>, peningkatan kualitas dan Update dari Sumber daya&nbsp; yang dimiliki, labolatroium yang memadai dengan alat praktikum yang cangih sudah menjadi suatu gebrakan untuk bersama memajukan Fisioterapi di indonesia maupun di dunia, demi terus berkembang nya profesi ini di masa depan. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-07-02-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-9\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-07-02-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-07-02-300x225.jpg 300w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-07-02-768x576.jpg 768w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-content\/uploads\/sites\/362\/2020\/06\/photo_2020-06-26_12-07-02.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Mahasiswa D3 Fisioterapi IIK BW Kediri di bekali dengan pelatihan Basic Life Support (BLS)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Melihat dari sejarahnya dan perkembangan nya, patut di yakini bahwa profesi fisioterapis ini akan menjadi salah satu profesi yang menjanjikan dimasa akan datang, karna ilmu dan metode terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman nya, perkembangan pendidikan juga semangkin pesat dengan di lakukan nya riset riset yang berkaitan dengan ilmu fisioterapi. Lahan praktik yang sangat terbuka lebar serta problematika yang ada di masyarakat juga terus bertambah sehingga mereka tetap membutuhkan fisioiterapi. Namun di tengah keyakinan ini, wajiblah kita untuk selalu menjaga dan merawat apa yang sudah di wariskan oleh pendahulu dengan menyempurkanan serta mecari metode baru dalam standar fisoterapi sehingga apa yang sudah kita miliki hari ini akan terus berkembang juga tetap dimiliki oleh kompetensi fisioterapi, bukan kemudian di akui oleh profesi lain nya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fisioterapi tanpa di sadari sudah ada sejak jaman Mesir kuno, fisioterapi yang sederhana pada masa tersebut bisa di buktikan dengan adanya sentuhan sentuhan halus pada&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":359,"featured_media":23,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2,7,9,10,5,6,12,11,13,8,4,3],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/users\/359"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7\/revisions\/24"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/indracahyadinata\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}