{"id":128,"date":"2020-12-28T00:00:00","date_gmt":"2020-12-28T00:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/?p=128"},"modified":"2020-12-28T12:30:19","modified_gmt":"2020-12-28T12:30:19","slug":"intip-yuk-dismenore","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/2020\/12\/28\/intip-yuk-dismenore\/","title":{"rendered":"INTIP YUK! : DISMENORE"},"content":{"rendered":"\n<p>Hai girls, jumpa lagi di INTIP YUK! bulanan HIMABIDARI. kali ini INTIP YUK membahas tentang dismenore atau nyeri haid. Check This Out!<\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong>Dismenore<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dismenore atau yang lazim disebut nyeri menstruasi (haid) bukanlah hal yang baru bagi wanita. Dismenore dibagi menjadi dua yaitu, Dismenore primer dan Dismenore sekunder.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Dismenore primer adalah nyeri pada perut bagian bawah saat menstruasi&nbsp;<em>tanpa disertai<\/em>&nbsp;adanya kelainan atau penyakit pada panggul. Sedangkan Dismenore sekunder adalah nyeri pada perut bagian bawah saat menstruasi&nbsp;<em>disertai<\/em>&nbsp;adanya kelainan atau penyakit pada panggul. Artikel kali ini akan lebih fokus membahas tentang dismenore primer karena disemenore sekunder membutuhkan penanganan lebih khusus, tergantung dari faktor penyebabnya. Diperkirakan 1 dari 2 wanita mengalami dismenore dan 1 dari 10 wanita tersebut mengalami gejala yang parah hingga tidak dapat melakukan aktivitas sehari \u2013 hari. Dismenore sering dialami oleh wanita khususnya usia 15 \u2013 25 tahun dan angka kejadiannya menurun di atas usia tersebut.<\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong>Gejala Dismenore<\/strong><strong><\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Gejala utama dismenore adalah nyeri hingga ke bagian punggung dan kaki dimulai pada hari pertama atau sehari sebelum menstruasi, berlangsung 12 \u2013 24 jam, namun beberapa kasus dapat berlangsung 2- 3 hari. Rasa nyeri tidak selalu sama untuk setiap kali masa menstruasi, terkadang terasa lebih hebat dibanding masa menstruasi sebelumnya. Nyeri dapat berkurang seiring bertambahnya usia atau setelah mempunyai anak. Kelelahan, nyeri pada payudra, mual, kembung, konstipasi (sembelit), lebih emosional dan mudah merasa sedih, sakit kepala, dan pingsan merupakan gejala lain yang muncul saat dismenore.<\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong>Cara Mengatasi&nbsp;Dismenore&nbsp;<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Hal pertama yang dapat dilakukan saat mengalami dismenore adalah dengan mengatasi terlebih dahulu tanpa obat. Seperti berolahraga secara teratur seperti berjalan atau jogging ringan, karena olahraga dapat meningkatkan hormon endorphin yang membantu mengurangi rasa nyeri. Selain itu anda dapat meningkatkan konsumsi makanan rendah lemak, tinggi karbohidrat, kaya akan zat besi, kalsium, dan vitamin B kompleks. Anda dapat mengkompres hangat misalnya dengan meletakan botol yang telah diisi air hangat pada bagian yang nyeri.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika tidak ada perbaikan hal kedua yang harus dilakukan adalah dengan mengatasinya dengan obat. Anda bisa meminum obat anti nyeri, pilihan utama bisa menggunakan obat golongan AINS (Anti inflamasi Non Steroid). Seperti\u00a0<strong>Iboprofen<\/strong>\u00a0(dosis 200mg dapat dibeli bebas tanpa resep dokter) dan Asam Mefenamat (dapat dibeli tanpa resep dokter namun dengan pertimbangan apoteker). Pilihan alternatifnya adalah\u00a0<strong>Parasetamol<\/strong> (seringkali dikombinasikan dengan\u00a0<strong>kafein<\/strong>\u00a0untuk meningkatkan efek antinyerinya).<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, sekian dulu ya informasi tentang dismenore dari HIMABIDARI. Pantengin terus INTIP YUK edisi selanjutnya, see you girls!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hai girls, jumpa lagi di INTIP YUK! bulanan HIMABIDARI. kali ini INTIP YUK membahas tentang dismenore atau nyeri haid. Check This Out! Dismenore Dismenore atau&hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":587,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2,10,9,5],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/587"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":130,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128\/revisions\/130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/himad3kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}