Kategori
Uncategorized

Perilaku Hidup Baru dan Mulai Berdamai dengan COVID-19

https://www.iik.ac.id/

Semenjak adanya anjuran pemerintah untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri merespon dengan cepat anjuran terfsebut dengan memfasilitasi para mahasiswa melalui pembelajaran daring (e-learning), sehingga kegiatan akademik tetap berjalan

Pada postingan saya yang pertama ini, saya akan membahas tentang perilaku hidup baru dan mulai berdamai dengan Covid-19. Semenjak diumumkan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 lalu, Covid-19 terus menunjukkan eksistensinya. Hari demi hari, persebaran virus semakin masiv. Bahkan, hampir negara diseluruh dunia mulai dijarah oleh virus corona baru ini. Keadaan ini adalah sejarah baru, sebuah mimpi buruk bagi peradaban umat manusia. Setiap negara terlihat kerepotan menghadapi makhluk berukuran kecil ini. Senjata tercanggihpun, sepertinya tak mampu menghalau serangan senyap makhluk kecil ini. Dia menjelma menjadi makhluk yang membuat cemas dan takut seluruh umat manusia didunia. Betapa tidak, ribuan nyawa melayang setiap harinya karena ulah makhluk itu. Segala hal telah diusahakan oleh pemerintah. Mulai dari mengeluarkan anjuran untuk stay at home, hingga membuat protokol kesehatan seperti memakai masker, social distancing, physical distancing, dan rajin cuci tangan dengan sabun. Protokol kesehatan ini sepertinya saat ini harus menjadi kebiasaan hidup umat manusia didunia. Mengapa demikian? Karena Covid-19 belum ada vaksin dan obatnya, sehingga agar tetap bisa survive, maka umat manusia dianjurkan untuk melakukan protokol kesehatan yang telah menjadi perilaku hidup baru. Jika kita memflashback kejadian tahun 1960, mungkin keadaan saat ini hampir sama dengan saat itu. Namun, cara penularan virusnya yang berbeda. Pada tahun 1960, masyarakat Surabaya dibuat bingung karena ada penyakit yang gejalanya yaitu demam, ada bintik merah, dapat mengeluarkan darah dari hidung, dan akhirnya si penderita meninggal. Lambat laun, ternyata diketahui hal tersebut disebabkan oleh virus yang bernama dengue. Virus tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Akhirnya, pemerintah dengan serentak mencanangkan protokol kesehatan yang saat ini kita kenal dengan 3M Plus. Manusia telah berdampingan dengan virus dengue penyebab penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) dengan melakukan protokol kesehatan 3M Plus tersebut. Lalu, bagaimana dengan Covid-19? Sebelum adanya vaksin dan obat Covid-19, kita harus berdamai dengan virus tersebut. Apa makna berdamai disini? Berdamai adalah hidup berdampingan dengan Covid-19 namun jangan sampai tubuh kita menjadi inang bagi mereka dan berhasil diinvasinya. Apakah bisa? virus tersebut kan penularannya sangat cepat dan mematikan? Sangat bisa. Bagaimana caranya? terapkan protokol kesehatan secara tertib dan disiplin!. Tidak ada tawar menawar masalah protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini harus menjadi sebuah kebiasaan baru ditengah kehidupan masyarakat agar tetap bisa survive. Kebiasaan baru yang biasa disebut new normal memang cukup sulit untuk diterapkan, apalagi jika yang diberikan intervensi adalah orang-orang yang bebal. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus bisa “berdamai” dengan Covid-19. Hidup berdampingan dengan mereka, karena mereka (Covid-19) telah hadir ditengah-tengah kehidupan kita. Kata berdamai jangan disalah artikan bahwa kita bebas melakukan segala sesuatunya seperti dulu. Tidak bisa. Saat ini sudah tidak bisa. Kita masuk pada era baru kehidupan. Intinya adalah kita “berdamai” untuk “memusnahkan” virus tersebut, yang dalam hal ini adalah memutus mata rantai penularannya.

Oleh Hikmawan Suryanto

Dosen di Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri