{"id":96,"date":"2020-07-06T08:25:21","date_gmt":"2020-07-06T08:25:21","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/?p=96"},"modified":"2020-07-06T08:25:21","modified_gmt":"2020-07-06T08:25:21","slug":"dosis-bagian-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/2020\/07\/06\/dosis-bagian-pertama\/","title":{"rendered":"Dosis (bagian pertama)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dosis menjadi salah satu bagian yang vital pada saat menyiapkan suatu obat atau meracik obat dari resep dokter. Dosis harus dipastikan tepat dan tidak berlebih ataupun kurang. Pemberian obat yang melebihi takaran maksimal dan takaran lazimnya bisa menimbulkan resiko over dosis. Over dosis tentunya bisa menjadi hal yang merugikan pasien baik dalam jangka pendek ataupun jangka Panjang. Pemberian obat yang terlalu kecil akan menimbulkan kurangnya efek terapi sehingga tujuan terapi sulit tercapai dan mengakibatkan gagalnya pengobatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada penulisan resep, dokter sudah memperhitungkan pemberian dosis dari obat yang tertulis di resep, namun dalam praktik peracikan nya tetaplah harus dilakukan penghitungan dosis. Hal itu ditujukan untuk mengurangi resiko bahaya pada pasien apabila terjadi kesalahan dalam menuliskan satuan dosis di resep.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>PENGERTIAN DOSIS<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dosis secara sederhana bisa diartikan sebagai takaran obat.\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'Times New Roman',serif\">Dosis maksimal menurut Farmakope Indonesia III adalah dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Pasien disebut dewasa apabila sudah berusia 20 tahun atau lebih, atau belum 20 tahun namun sudah menikah. Angka yang menunjukkan dosis maksimum untuk suatu obat ialah dosis tertinggi yang masih dapat diberikan kepada penderita dewasa. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>SATUAN DOSIS<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: 'Times New Roman',serif\">Satuan dosis pada umumnya dicantumkan dalam satuan gram, milligram, microgram atau Satuan Internasional kecuali untuk beberapa cairan. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan jika di belakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter penulis resep.\u00a0 Hal ini bisa terjadi karena dimungkinkan adanya toleransi (peningkatan takaran obat secar bertahap),sehingga terkadang ada pemberian obat yang dosis pakainya melebihi dosis maksimal, meskipun jarang terjadi. Dosis lazim dewasa, bayi dan anak hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>JENIS JENIS DOSIS<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis terapi<\/strong> merupakan dosis yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan sakit. Dosis ini umumnya tertulis pada beberapa kemasan obat jadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis minimal<\/strong> adalah takaran obat terkecil yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada pasien. Resistensi terhadap obat sebisa mungkin harus dihindari Karena tidak menguntungkan pada pasien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis maksimal<\/strong> merupakan takaran terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. Dosis maksimal tertera pada buku Farmakope Indonesia edisi I, Ekstra Farmakope Indonesia edisi I, Farmakope Indonesia edisi II dan Farmakope Indonesia Edisi III.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis letal<\/strong> merupakan dosis yang dalam keadaan biasa dapat menyebabkan kematian penderita<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">LD 50 artinya takaran yang menyebabkan kematian 50% hewan uji<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;text-align: justify\">LD 100 artinya takaran yang menyebabkan kematian 100% hewan uji<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis inisiasi (dosis awal)<\/strong> merupakan takaran yang diberikan pada awal suatu terapi sampai tercapai kadar kerja yang diinginkan secara terapeutik<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Dosis pemeliharaan<\/strong> merupakan takaran yang diberikan selanjutnya setelah tercapai kejenuhan untuk memelihara kerja serta konsentrasi jaringan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>DOSIS UNTUK ANAK-ANAK DAN BAYI<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor, antara lain umur, berat badan, jenis kelamin, sifat penyakit, daya serap obat, ekskresi obat. Faktor lain yang memengaruhi pemberian dosis adalah \u00a0kondisi pasien, kasus penyakit, jenis obatnya juga faktor toleransi, habituasi, adiksi dan sensitif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dosis untuk anak-anak dan bayi sudah semestinya untuk disesuaikan. Anak kecil terutama bayi memiliki kerentanan yang besar terhadap obat. Hal ini sebabkan hati dan ginjal dan juga system enzimnya belum tumbuh secara lengkap. Sehingga dalam hal pemberian obat perlu dihitung secara cermat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk menentukan dosis maksimal pada anak, ada beberapa rumus yang digunakan. Ada yang menggunakan dasar umur pasien, ada juga yang menggunakan dasar berat badan pasien.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-107\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-300x207.jpg\" alt=\"\" width=\"424\" height=\"293\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-300x207.jpg 300w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-768x531.jpg 768w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur.jpg 791w\" sizes=\"(max-width: 424px) 100vw, 424px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-109 aligncenter\" src=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-2-300x120.jpg\" alt=\"\" width=\"420\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-2-300x120.jpg 300w, https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-content\/uploads\/sites\/398\/2020\/07\/DM-anak-berdasar-umur-2.jpg 736w\" sizes=\"(max-width: 420px) 100vw, 420px\" \/><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sekian dahulu untuk postingan kali ini, di bagian kedua akan disinggung tentang dosis pada usia lanjut dan ibu hamil, serta perhitungan dosis untuk larutan dan dosis sinergis atau gabungan. Admin undur diri dulu, sampai bertemu di postingan berikutnya. \ud83d\ude42<\/p>\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n<p><strong>SUMBER PURTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Anief, Moh. 1997. <em>Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. <\/em>Gadjah Mada University Press :\u00a0\u00a0\u00a0 Yogyakarta<\/p>\n<p>Anief, Moh. 1997. <em>Ilmu Meracik Obat. <\/em>Gadjah Mada University Press : Yogyakarta<\/p>\n<p>Anief, Moh. 2000. <em>Farmasetika. <\/em>Gadjah Mada University Press : Yogyakarta<\/p>\n<p>Anonim, 1979. <em>Farmakope Indonesia edisi III<\/em>. Depkes RI : Jakarta<\/p>\n<p>Anonim, 1995. <em>Farmakope Indonesia edisi IV<\/em>. Depkes RI : Jakarta<\/p>\n<p>Anonim, 2008. <em>Farmakope Herbal Indonesia edisi I<\/em>. Depkes RI : Jakarta<\/p>\n<p>Anonim, 2014. <em>Farmakope Indonesia edisi V<\/em>. Depkes RI : Jakarta<\/p>\n<p>Anonim. 1978. <em>Formularium Nasional edisi 2. <\/em>Depkes RI : Jakarta<\/p>\n<p>Ansel, Howard C. 2008. <em>Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat. <\/em>UI Press : Jakarta<\/p>\n<p>Hakim, Lukman. 2015. <em>Optimasi Dosis. <\/em>Bursa ilmu: Yogyakarta<\/p>\n<p>ISFI Djatim. 1971. <em>Formularium Medicamentorum Selectum<\/em>. PT Pantja Pudjibangun : Surabaya<\/p>\n<p>ISFI. 2007. <em>ISO vol 42. <\/em>PT Ikrar Mandiri Abadi: Jakarta<\/p>\n<p>Joenoes, Nanizar Zaman. 2003. <em>ARS PRAESCRIBENDI Peresepan Yang Rasional vol 1. <\/em>Airlangga University Press: Surabaya<\/p>\n<p>Joenoes, Nanizar Zaman. 2003. <em>ARS PRAESCRIBENDI Peresepan Yang Rasional vol 2. <\/em>Airlangga University Press: Surabaya<\/p>\n<p>Lachman, Leon. Herbert A. Lieberman, Joseph L Kanig. 2008. <em>\u00a0Teori dan Praktik Industri Volume 2. <\/em>UI Press : Jakarta<\/p>\n<p>Langley, Christ dan Dawn Belcher. 2013. <em>FASTTRACK Peracikan dan Penyerahan Obat. <\/em>EGC : JAKARTA<\/p>\n<p>Lukas, Stevanus. 2011. <em>Formulasi Steril. <\/em>ANDI : Yogyakarta<\/p>\n<p>Saptaning,\u00a0 Agustina dkk. 2013. <em>Ilmu Resep Untuk SMK Farmasi Vol 1<\/em>. EGC : Jakarta<\/p>\n<p>Saptaning,\u00a0 Agustina dkk. 2013. <em>Ilmu Resep Untuk SMK Farmasi Vol 2<\/em>. EGC : Jakarta<\/p>\n<p>Syamsuni, H.A. 2005. <em>Ilmu Resep<\/em>. EGC : Jakarta<\/p>\n<p>Tjay, Tan Hoan dan Kirana Raharja. 2010. <em>Obat-Obat Penting edisi keenam<\/em>. PT Gramedia: Jakarta<\/p>\n<p>Voight, R. 1994. <em>Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. <\/em>Gadjah Mada University Press : Yogyakarta<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/m-rifqi-rochman.staff.ugm.ac.id\/2014\/03\/09\/singkatan-latin-dalam-resep-untuk-apoteker\/#more-162\">http:\/\/m-rifqi-rochman.staff.ugm.ac.id\/2014\/03\/09\/singkatan-latin-dalam-resep-untuk-apoteker\/#more-162<\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/m-rifqi-rochman.staff.ugm.ac.id\/2014\/03\/09\/salinan-resep-lengkap\/#more-168\">http:\/\/m-rifqi-rochman.staff.ugm.ac.id\/2014\/03\/09\/salinan-resep-lengkap\/#more-168<\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.academia.edu\/23016630\/PRESKRIPSI_DOKTER_KAIDAH_PENULISAN_RESEP\">http:\/\/www.academia.edu\/23016630\/PRESKRIPSI_DOKTER_KAIDAH_PENULISAN_RESEP<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam meracik suatu obat, perhitungan dosisi menjadi salah satu point utama yang harus diperhatikan. Ketepatan dosis pada obat akan sangat berpengaruh terhadap hasil terapi. Selamat menyimak postingan kali ini tentang dosis. Selamat membaca pembaca yang terhormat. \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"author":395,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[17,10,7],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/395"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96\/revisions\/131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}