{"id":140,"date":"2020-07-11T02:37:13","date_gmt":"2020-07-11T02:37:13","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/?p=140"},"modified":"2020-07-11T02:37:13","modified_gmt":"2020-07-11T02:37:13","slug":"apa-itu-salesmanship-seberapa-penting-dalam-proses-marketing-produk-farmasi-bagian-satu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/2020\/07\/11\/apa-itu-salesmanship-seberapa-penting-dalam-proses-marketing-produk-farmasi-bagian-satu\/","title":{"rendered":"APA ITU SALESMANSHIP? SEBERAPA PENTING DALAM PROSES MARKETING PRODUK FARMASI? (bagian satu)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><b>DEFINISI<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">D<\/span><span style=\"font-weight: 400\">alam proses penjualan terdapat hal yang sangat berpengaruh untuk kesuksesan menjual barang dan jasa. hal tersebut biasa dikenal dengan istilah \u201csalesmanship\u201d. dalam jual beli penjual perlu untuk bisa mengetahui kebutuhan dari pembeli. di sinilah kelihaian dari penjual diuji. Lihai disini tidak hanya mahir dalam berkomunikasi saja, namun juga mahir membaca kebutuhan pembeli. dari uraian singkat tersebut bisa diambil kesimpulan, apa sih yang disebut dengan salesmanship? dalam buku manajemen farmasi untuk SMK farmasi, terbitan EGC tertulis definisi dari salesmanship, yaitu seni dan ilmu untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan dan problem seorang calon pembeli sehingga penawaran-penawaran penjual yang bersangkutan menjadi jawaban yang realistis dan ekonomis. Sementara salesman adalah orang yang melakukan pekerjaan menjual produk barang atau jasa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada pembahasan kali ini admin langsung fokus pada penjualan seputar obat dan sediaan farmasi. Nah kembali ke salesmanship di atas, dinyatakan sebagai suatu seni dan ilmu untuk menemukan kebutuhan dan problem dari calon pembeli. Mari kita imajinasikan, sekarang posisi kita sebagai seorang yang melayani penjualan obat di apotek. Pada saat ada pasien atau dalam manajemen disebut sebagai konsumen datang ke apotek, maka kita wajib untuk bisa membaca kebutuhan pasien tersebut. Semisal konsumen datang tanpa resep, maka kita gali informasi tentang obat atau sediaan farmasi apa yang diperlukan. Dengan begitu kita bisa membantu \u201cmendampingi\u201d pasien mendapatkan obat yang dibutuhkan. Apakah cukup sampai di situ? Oh tidak, kita bisa mengembangkan marketing kita, semisal obat yang dibeli pasien tidak ada atau habis, maka secara otomatis kita berikan solusi untuk penggantian obat yang mungkin dengan merk berbeda namun kandungan dan kekuatan nya sama. Masalahnya adalah obat yang dibeli tidak ada, problem solving nya kita berikan obat lain dengan fungsi, kandungan dan kekuatan yang sama. Umumnya satu masalah bisa diikuti dengan masalah lain, semisal ternyata obat pengganti harganya lebih mahal dan membuat pasien enggan membeli. Maka problem solvingnya bisa mencari obat yang sama dengan harga yang lebih murah. Wah, admin kok sulit ya menjadi pegawai apotek? memang dalam dunia farmasi kita dituntut untuk tahu lebih agar lebih tahu. Minimal menguasai obat-obat yang dijual di apotek tempat kita bekerja agar bisa memberikan alternatif pilihan pada pasien.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dari sedikit ulasan diatas maka seorang salesman (penjual) harus memiliki salesmanship yang bagus. Dalam marketing, selling (penjualan) adalah sasaran utama atau inti. Hal ini karena dalam prosesnya meliputi tawar-menawar, persetujuan dan sampai proses pembayaran. Kepuasan dan ketepatan obat yang diterima pasien menjadi tujuan utama, agar muncul rasa percaya pasien kepada kita sehingga kelak bila pasien mengalami gangguan sakit, maka akan otomatis datang ke apotek kita, karena sudah mendapat kepuasan di pembelian sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>METODE SELLING<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Masih dalam buku yang sama, admin mengutip tentang beberapa metode selling, yaitu :<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">personal selling<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">advertising<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">pesanan lewat pos<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">korespondensi<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sampel<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">pameran<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">lelang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">pasar<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Metode tersebut tidak semua bisa digunakan, tergantung dari jenis golongan obat yang dijual atau jenis-jenis perbekalan farmasi dan kesehatan yang dijual. Hal itu karena dalam peredaran obat ada kaidah atau aturan yang harus ditaati, semisal obat keras yang bukan termasuk OWA dan dibeli tanpa resep dokter, seharusnya tidak boleh diberikan pada pembeli.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>SIFAT-SIFAT SALESMAN<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai salesman yang baik,ada beberapa sifat yang umum dimiliki yaitu :<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat komunikatif. Komunikasi secara sederhana adalah hubungan dua pihak yang terarah dan saling memahami. Komunikasi yang baik akan bisa membuat calon pembeli yakin dan terjadi transaksi jual beli. Komunikasi bisa dalam bentuk lisan maupun tulisan, dengan komunikasi yang baik salesman bisa menerapkan berbagai metode selling yang sesuai sehingga menarik pihak calon pembeli.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat kreatif. Dalam dunia usaha, lingkungan berkembang dengan cepat. persaingan berjalan dengan cepat. Kreatif di sini artinya mampu cepat beradaptasi dengan lingkungan persaingan yang ketat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat terorganisasi dengan baik. salesman akan lebih baik dalam menjalankan tugasnya apabila segala sesuatunya direncanakan dengan baik. Kondisi yang terencana akan menghasilkan penjualan yang disiplin yang mampu mendapatkan omset secara maksimal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat loyal yang tinggi. Salah satu sifat yang menunjang kinerja salesman adalah sifat loyal atau kesetiaan tinggi terhadap produk barang atau jasa yang dia jual. Loyalitas juga termasuk loyal terhadap perusahaan tempat dia bernaung. Salesman harus mengenali betul produk barang dan jasa serta perusahaannya, sehingga bisa menunjukkan kelebihan dari perusahaan tersebut,<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat integrasi kesuksesan penjual berawal dari sifat kejujuran selama transaksi jual beli. Hal ini akan memberi dasar yang baik kepada konsumen dalam menilai salesman.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">sifat atraktif. Untuk bisa menarik calon pembeli serta memberikan kesan pertama yang baik.&nbsp;<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">saling memahami. Calon pembeli berusaha mengenali salesman selama proses penjualan. Perlu saling memahami antara salesman dengan calon pembeli.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">memiliki sifat bergerak sendiri. Penjual yang baik, akan memiliki dorongan keras dari dirinya sendiri untuk selalu bergerak maju. Termotivasi dengan baik dari dalam sendiri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Sifat berorientasi pada sasaran. Salesman yang sukses akan berorientasi pada sasaran penjualan, memiliki target capaian yang harus dipenuhi. Dengan memiliki orientasi yang baik akan meningkatkan hasil yang baik juga.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk sementara admin sampai disini dulu ya,, semoga nanti bisa bertemu lagi di tulisan yang akan datang. Terima kasih sudah berkunjung dan tetap jaga kesehatan. \ud83d\ude42<\/span><\/p>\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n<p><strong>PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Winanti, Reviana Ari, SE,AK dkk. (2013). Manajemen Farmasi untuk SMK Farmasi vol. 2. Jakarta : EGC<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/lolasetiadewi05.wordpress.com\/2012\/04\/03\/salesman-dan-salesmanship\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/lolasetiadewi05.wordpress.com\/2012\/04\/03\/salesman-dan-salesmanship\/<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/distribusipemasaran.com\/salesmanship-untuk-salesman-pemula-bidang-non-distribusi\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/distribusipemasaran.com\/salesmanship-untuk-salesman-pemula-bidang-non-distribusi\/<\/span><\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DEFINISI Dalam proses penjualan terdapat hal yang sangat berpengaruh untuk kesuksesan menjual barang dan jasa. hal tersebut biasa dikenal dengan istilah \u201csalesmanship\u201d. dalam jual beli penjual perlu untuk bisa mengetahui kebutuhan dari pembeli. di sinilah kelihaian dari penjual diuji. Lihai disini tidak hanya mahir dalam berkomunikasi saja, namun juga mahir membaca kebutuhan pembeli. dari uraian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":395,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[10,22,14,7],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/395"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=140"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":228,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions\/228"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/faruqazhar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}