{"id":31,"date":"2024-08-16T02:01:25","date_gmt":"2024-08-16T02:01:25","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/?p=31"},"modified":"2024-08-16T02:01:25","modified_gmt":"2024-08-16T02:01:25","slug":"madu-dan-singa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/2024\/08\/16\/madu-dan-singa\/","title":{"rendered":"Madu dan Singa"},"content":{"rendered":"\n<p>Kisah Simson pertama kali yang tertulis adalah perjalanan dia ke Filistin untuk bertemu orang yang dia cintai. dalam perjalanannya dia bertemu dengan singa yang mengaum padanya, kemudian dia membunuhnya. Kenapa dia membunuhnya, itu pertama kali yang saya pikirkan. Dia tidak menghalangi jalan? dia juga tidak bisa berbicara dan dia hanya mengaum? apakah mengaum itu adalah cara singa untuk menunjukkan bahwa dia kuat, dia berkuasa ataukah dia mengintimidasi agar simson menjadi lemah. entah alasan apapun yang dibuat simson dia membunuhnya, membiarkan mayat nya tergeletak disana. Beberapa hari kemudian ketika dia kesana, dia melihat sesuatu yang bisa dijadikan teka-teki. &#8220;Dari yang makan keluar makanan, Dari yang kuat keluar manisan&#8221;. Ada banyak hal menakjubkan ketika kau membaca, dan ini satu situasi, kata yang baru saya temukan &#8220;Teka-Teki&#8221;. Ketika kita membuat teka-teki kita harus tahu jawaban nya terlebih dahulu, seperti pekerjaan dosen ketika membuat soal harus tahu jawaban nya terlebih dulu, seorang penulis yang membuat cerita kadangkala juga harus tahu ending ceritanya seperti apa. Namun saya terkagum dengan Simson, orang yang digambarkan &#8220;terkuat&#8221; versi yang saya baca pada hari ini, memberikan gambaran bahwa dia juga seorang pemikir. Kadang kala, kita memiliki &#8220;penghakiman&#8221; terhadap orang lain karena suatu hal yang mainstrem, dan kadangkala itu menyesatkan kita ketika menilai orang dari sekali pandang saja. Simson dalam gambaran cerita anak-anak sekolah minggu juga begitu, dia digambarkan seorang yang kuat, yang bisa merobohkan gedung, yang membunuh seribu orang sendirian, yang memegang singa namun kita lupa akan ada hal yang mungkin kelihatan lembut dalam hidupnya. Sepanjang kisah Simson yang saya baca belum berakhir, namun saya merenungkan bahwa penilaian kita terhadap orang lain kadang kala salah atau berubah dari pertemuan ke pertemuan berikutnya. Yang paling banyak disalahkan adalah penilaian kita terhadap orang tua, sikap orang tua yang &#8221; baik&#8221; menurut versi kita belum tentu &#8220;Baik &#8221; menurut versi mereka. Lepas dari apapun itu, mereka selalu memberi hal yang manis dalam hidup kita, entah satu moment atau kah banyak moment yang ketika kita besar kita lupa. Sesuatu yang menurut saya diawal adalah aneh karena singa itu terbunuh namun singa itu memberi makan simson dan keluarga nya madu.&#8221;Apakah yang lebih manis daripada madu?; Apakah yang lebih kuat daripada singa?&#8221;. Untuk orang yang telah pergi dan pulang kerumah Bapa, Kau akan tetap jadi Singa dan Madu bagi anak-anakmu dan cucumu. <\/p>\n\n\n\n<p>Ps. Pak Dwi RIP 15 Agustus 2024<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah Simson pertama kali yang tertulis adalah perjalanan dia ke Filistin untuk bertemu orang yang dia cintai. dalam perjalanannya dia bertemu dengan singa yang mengaum padanya, kemudian dia membunuhnya. Kenapa dia membunuhnya, itu pertama kali yang saya pikirkan. Dia tidak menghalangi jalan? dia juga tidak bisa berbicara dan dia hanya mengaum? apakah mengaum itu adalah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":147,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/users\/147"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31\/revisions\/32"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}