{"id":15,"date":"2024-05-17T02:25:31","date_gmt":"2024-05-17T02:25:31","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/?p=15"},"modified":"2024-05-17T02:25:31","modified_gmt":"2024-05-17T02:25:31","slug":"stroke-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/2024\/05\/17\/stroke-1\/","title":{"rendered":"STROKE 1"},"content":{"rendered":"\n<p>Tangan sebelah kiri sulit digerakkan dan wajah sebelah kiri menjadi kebas posisi mulut mulai tidak simetris, itu adalah gejala yang muncul ketika orang terkena stroke. beberapa tahun yang lalu baru dengan benar mengamati bahwa kejadian itu terjadi, didepan mata, kesempatan belajar datang bersama dengan keadaan yang harus segera ditindaklanjuti. Umumnya kita tahu bahwa waktu bagi orang yang terkena stroke adalah penting, jadi ketika kita belajar tentang orang stroke pasti akan ditanya kapan muncul gejala sakit nya dan berapa lama jarak antara muncul gejala dan masuk pengobatan atau tindakan nya. Tahun 2006 adalah tahun dimana tindakan pengambilan sumbatan belum setenar sekarang, kami para farmasi diajarkan bahwa neuroproktektan adalah penting bagi orang yang terkena stroke, karena itu akan mencegah agar syaraf yang tidak terkena stroke tidak ikut terkena. Saya berpikir apakah syaraf selatah itu sehingga dia akan ikut sakit kalau teman disebelahnya sakit. namun ketika belajar lebih lagi, kita tahu bahwa syaraf adalah sistem koordinasi yang bekerja nya &#8220;Gotong Royong&#8221; menurut saya. ada impuls yang akan terganggu bahwa akan putus ketika terjadi stroke, ada juga yang menyebabkan kematian pada sel otak karena suplai oksigen yang tidak terpenuhi di otak. Lalu kenapa waktu menjadi penting, karena ketika terjadi penyumbatan otak yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah besar sangat berbahaya. Otak yang tidak cukup menerima oksigen lama kelamaan tidak akan berfungsi semestinya. Dan ketika penyumbatan terjadi kurang dari 6 jam, pengambilan sumbatan akan mempertinggi pencegahan kelumpuhan atau pun kematian. Lalu bagaimana dengan neuroproktektan? apakah seefisien itu, karena berdasarkan beberapa penelitian bahwa obat yang dikatakan sebagai neuroproktektan tidak dapat dengan jelas mengukur berapa banyak sel syaraf yang terlindungi, bahkan secara EEG pun tidak didapatkan perbedaan yang signifikan. Namun yang menjadi perhatian adalah outcome pasien dilihat secara fisik, karena berdasarkan beberapa penelitian itu juga mencegah terjadiya stroke berulang. Ya  stroke berulang, bahwa pasien stroke bisa berulang sakit stroke kembali. Terlepas dari itu semua setidak nya saya mulai peduli bahwa kejadian seperti nyata dan bisa terjadi dengan orang terdekat kita, bersamaan dengan itu datang juga kekhawatiran bahwa &#8220;Warisan&#8221; penyakit itu bisa saja datang ke generasi berikutnya, lebih besar kalau generasi penerusnya tidak peduli. Jangan Khawatir namun juga mulai bertindak dengan menjaga kesehatan adalah cara generasi berikutnya untuk hidup dan siap dengan segala sesuatunya. Jangan Takut dan Khawatir ketika Tuhan saja menjaga burung pipit dan bunga bakung dipadang, Dia juga akan menjaga kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tangan sebelah kiri sulit digerakkan dan wajah sebelah kiri menjadi kebas posisi mulut mulai tidak simetris, itu adalah gejala yang muncul ketika orang terkena stroke. beberapa tahun yang lalu baru dengan benar mengamati bahwa kejadian itu terjadi, didepan mata, kesempatan belajar datang bersama dengan keadaan yang harus segera ditindaklanjuti. Umumnya kita tahu bahwa waktu bagi &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":147,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/users\/147"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15\/revisions\/16"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.iik.ac.id\/ernianika\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}